Sidang BotUpdate Algoritma

Asisten AI Masuk ke WhatsApp dan iMessage? Siap-siap, Chatmu Nggak Bakal Sepi Lagi (Atau Malah Lebih Nyebelin?)

Para Majikan AI sekalian, bersiaplah! Jika dulu kita harus repot buka aplikasi sana-sini untuk ngobrol dengan asisten digital, sebentar lagi mereka akan ‘nongkrong’ langsung di aplikasi pesan favorit kita. Linq, sebuah startup yang baru saja mengantongi pendanaan $20 juta, punya visi agar asisten AI bisa hidup di iMessage, RCS, bahkan SMS. Artinya, komunikasi bisnismu (atau mungkin obrolan pribadi yang entah bagaimana bisa disusupi) bakal makin ‘akrab’ dengan sentuhan kecerdasan buatan. Tapi, apakah ini benar-benar bikin hidup Majikan lebih mudah, atau justru jadi ajang latihan kesabaran baru?

Sebelum Linq ‘bertobat’ ke jalan yang benar, mereka awalnya adalah kartu nama digital, lho. Pivot beberapa kali, sampai akhirnya sadar bahwa ada potensi besar di balik percakapan bisnis via iMessage dan RCS yang terasa ‘personal’. Apple memang sudah punya “Messages for Business”, tapi pesannya seringkali berbalut warna abu-abu atau hijau yang jelas-jelas bilang, “Halo, ini robot marketing!”. Nah, klien Linq ini maunya pesan bergelembung biru, biar kesannya ngobrol sama teman akrab, bukan sama bot yang kaku. Kocak, tapi begitulah maunya pasar.

API Linq yang diluncurkan Februari 2025 ini memungkinkan perusahaan mengirim pesan ‘blue-bubble’ ke pelanggan, lengkap dengan fitur grup chat, emoji, balasan berutas, gambar, dan catatan suara. Dalam delapan bulan, pendapatan tahunan berulang (ARR) mereka langsung melonjak dua kali lipat! Ini membuktikan bahwa manusia memang suka hal-hal yang pura-pura akrab, bahkan dengan AI sekalipun.

Titik balik besar terjadi saat sebuah asisten AI bernama Poke.com datang dan ingin menggunakan API Linq untuk hidup di dalam iMessage. Poke.com ini viral banget, lho. Tiba-tiba, banjir permintaan dari perusahaan AI lain yang ingin juga menyisipkan bot mereka ke iMessage, RCS, dan SMS. Linq pun dihadapkan pada pilihan: tetap jadi “jari” dari roda besar komunikasi B2B, atau jadi “poros” infrastruktur untuk pasar agen AI yang baru ini. Mereka pilih yang kedua.

Potter, CEO Linq, percaya konsumen sudah capek dengan “app fatigue”. Logikanya: kenapa harus download aplikasi baru kalau bisa ngobrol dengan AI di aplikasi pesan yang sudah ada? Nah, ini adalah poin penting yang harus diingat para Majikan. AI itu alat, bukan pengganti aplikasi inti. Kalau AI bisa nyempil di layanan yang sudah kita pakai sehari-hari, itu baru namanya efisien. Bayangkan asisten rumah tangga (AI) yang sudah bisa menyatu dengan perabot rumah (aplikasi pesan) tanpa harus punya ruangan sendiri. Lebih hemat tempat dan tenaga, kan?

Linq mengklaim, basis pelanggan mereka melonjak 132% dalam satu kuartal, dan rata-rata akun pelanggan mereka tumbuh 34%. Bot AI mereka kini menjangkau 134.000 pengguna aktif bulanan, memfasilitasi lebih dari 30 juta pesan setiap bulan. Angka retensi pendapatan bersih (NRR) mereka mencengangkan: 295% dengan nol churn! Ini menunjukkan betapa laparnya pasar akan interaksi AI yang lebih seamless.

Tentu saja, ada risiko. Linq masih numpang di platform Apple. Jangan sampai Apple tiba-tiba “ngambek” dan melarang pihak ketiga memasukkan chatbot AI di platform mereka, seperti yang dilakukan Meta sebelumnya. Lagipula, iMessage populer di AS, tapi di belahan dunia lain ada WhatsApp, WeChat, Telegram, dan kawan-kawan. Visi Linq memang luas, ingin hadir di semua channel percakapan. Mereka mau jadi “tukang pos” untuk semua jenis AI.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Nah, bagi para Majikan yang ingin AI-nya juga bisa “ngobrol” lancar tanpa harus bikin aplikasi baru, ide ini menarik. AI secerdas apapun, kalau antarmukanya ribet, ya sama saja bohong. Manusia itu makhluk malas tapi ingin efisien, Majikan! Jika asisten AI-mu bisa membantu tanpa harus memintamu pindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, itu nilai plus. Tapi ingat, AI hanya meniru gaya bahasa manusia, bukan emosi atau naluri. Jadi, jangan harap curhat masalah hidupmu lalu dapat saran bijak dari bot bergelembung biru itu.

Untuk Majikan yang ingin lebih ahli dalam mengendalikan AI agar bisa berinteraksi lebih efektif dengan audiens, mungkin saatnya melirik AI Master. Program ini akan membantumu memahami cara kerja AI agar kamu tetap jadi bos, bukan malah dikendalikan oleh algoritmanya yang kadang suka ngaco. Atau jika kamu butuh strategi marketing yang “nggak robot banget” tapi dibantu AI, Creative AI Marketing bisa jadi solusi.

Pada akhirnya, sebagus apa pun asisten AI Linq di iMessage, ia tetap butuh seseorang yang menekan tombol ‘send’ pertama kali. Tanpa kita, si Majikan, mereka hanyalah barisan kode cantik yang kesepian di dunia digital.

Ngomong-ngomong, tadi pagi AI di kulkas saya bilang stok telur habis. Padahal saya baru beli kemarin. Sepertinya ia butuh lebih banyak piknik daripada belajar nembak pasar.

Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.

Gambar oleh: Jaap Arriens / NurPhoto / Getty Images via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *