Valuasi Meroket, Startup India Ini Cetak Duit dengan Melatih Pekerja yang Kebal AI
Setiap hari kita dijejali berita horor kalau AI bakal mengambil alih semua pekerjaan. Tapi di tengah badai ketakutan itu, sebuah startup asal India bernama Emversity justru berhasil menggandakan valuasinya menjadi $120 juta (setara triliunan Rupiah) setelah disuntik dana segar $30 juta. Resepnya? Mereka tidak melawan AI, tapi dengan cerdik melatih para pekerja di bidang yang AI sama sekali tidak becus menanganinya.
Ini adalah tamparan telak bagi para pemuja AI yang berpikir kode bisa menggantikan sentuhan manusia. Emversity melihat celah besar: pasar tenaga kerja India penuh dengan sarjana yang tidak siap kerja, sementara industri vital seperti kesehatan dan perhotelan kelimpungan mencari staf terlatih. Mereka fokus pada apa yang disebut peran “grey-collar”—pekerjaan yang butuh keahlian tangan dan sertifikasi khusus, bukan sekadar teori dari buku.
Fakta di Lapangan: AI Cuma Asisten, Bukan Pengganti
Emversity melatih perawat, fisioterapis, teknisi laboratorium medis, hingga staf perhotelan. Mereka sadar, sehebat apa pun sebuah algoritma, ia tidak bisa menggantikan empati seorang perawat yang menenangkan pasien, atau keramahan staf hotel yang membuat tamu merasa disambut.
CEO Emversity, Vivek Sinha, memberikan analogi yang membumi: “AI bisa mengurus pekerjaan administrasi seorang perawat, seperti mengisi rekam medis elektronik. Tapi AI tidak bisa menggantikan perawat jika aturannya adalah satu perawat untuk dua ranjang ICU.”
Di sinilah kebodohan fundamental AI terungkap. Ia seperti asisten rumah tangga yang super rajin dan efisien dalam membersihkan data, tapi kaku dan tidak punya inisiatif emosional. AI bisa menganalisis jutaan data kesehatan, tapi ia tidak bisa memegang tangan pasien yang sedang ketakutan. Ia bisa memproses booking hotel dalam sepersekian detik, tapi ia tidak akan pernah bisa memberikan senyum tulus yang membuat tamu merasa nyaman.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Karier AI.
Startup ini bekerja sama langsung dengan 23 universitas dan puluhan perusahaan besar seperti Fortis Healthcare dan Taj Hotels untuk memastikan kurikulum mereka benar-benar relevan dengan kebutuhan industri, bukan sekadar teori usang yang diajarkan di kampus.
Saatnya Jadi Majikan Cerdas, Bukan Babu Teknologi
Kisah sukses Emversity ini adalah pengingat penting. Daripada panik pekerjaanmu akan direbut mesin, lebih baik fokus pada keahlian yang tidak bisa ditiru oleh tumpukan silikon. Empati, kreativitas dalam situasi tak terduga, dan interaksi fisik adalah benteng pertahanan utama manusia.
Namun, bukan berarti kita bisa anti-teknologi. Majikan yang cerdas tahu cara memanfaatkan alatnya. Memahami cara kerja AI, memerintahnya untuk tugas-tugas repetitif, dan mengintegrasikannya ke dalam alur kerja justru akan memperkuat posisimu. Inilah esensi dari menjadi seorang master sejati di era ini. Jika kamu ingin memastikan dirimu tetap menjadi majikan dan bukan sekadar operator alat, maka menguasai cara kendali AI adalah langkah wajib. Kamu bisa memulainya dengan mendalami fondasi dan strategi di kelas AI Master, agar kamu yang punya akal, bukan AI yang mengaturmu.
Pada akhirnya, valuasi Emversity yang meroket bukanlah cerita tentang teknologi, melainkan tentang kemenangan akal sehat. Pasar mengakui bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diotomatisasi. Tanpa manusia yang memberi perintah, empati, dan sentuhan akhir, AI hanyalah kalkulator canggih yang menunggu dimatikan.
Ngomong-ngomong, sambal bawang itu enaknya dimakan pakai nasi hangat atau bubur ayam, ya?
Sumber Berita
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.