Investasi AI Rp1.000 Triliun, Hasilnya ZONK! Apakah Bisnismu Jadi Korban Janji Manis Robot?
Kabar gembira (atau mungkin lebih tepatnya peringatan keras) datang dari kancah teknologi. Menurut laporan MIT dan McKinsey, dua per tiga pertumbuhan PDB Amerika Serikat di paruh pertama 2025 didorong oleh investasi besar-besaran perusahaan pada AI. Angka yang fantastis, bukan? Tapi tunggu dulu. Jangan sampai euforia ini membuat akal sehat Anda sebagai majikan AI luntur. Pasalnya, di balik investasi triliunan ini, ada fakta pahit: 95% proyek AI di perusahaan justru berakhir dengan kegagalan.
Ini bukan cuma soal buang-buang uang, tapi juga potensi waktu dan energi yang terbuang sia-sia. Lantas, bagaimana caranya agar bisnis Anda tidak jadi korban selanjutnya dari janji manis para robot yang masih kurang piknik ini? Kuncinya ada pada bagaimana Anda, sang majikan sejati, memahami dan mengendalikan alat canggih ini, bukan malah jadi babu teknologi.
Data Itu ‘Emas’ (Tapi Kalau Kotor, Jadinya Sampah Berkedok Emas)
Kesenjangan antara potensi AI yang gembar-gembor di media dengan nilai riil di dunia bisnis semakin menganga. Mengapa demikian? Masalahnya bukan pada kecerdasan AI itu sendiri, melainkan pada “akal” manusia yang masih bingung mengolah data, keahlian domain, dan orkestrasi alur kerja AI.
Banyak pemimpin bisnis sudah paham pentingnya ‘membereskan’ data mereka sebelum mengadopsi AI. Tapi, sayangnya, banyak yang salah langkah. Mereka justru sibuk dengan inisiatif migrasi data besar-besaran atau fokus pada bagian-bagian kecil bisnis, berharap AI akan jadi juru selamat. Padahal, AI seharusnya jadi alat untuk memecahkan masalah data itu sendiri, bukan malah jadi tujuan akhir.
Fragmentasi data, inkonsistensi, dan ketidakcocokan antar dataset adalah biang keladi di balik kegagalan proyek-proyek AI. Robot-robot cerdas ini butuh asupan gizi digital yang rapi dan terstruktur untuk bisa bekerja optimal. Kalau data Anda masih berantakan, jangan salahkan AI kalau hasilnya cuma halusinasi. Ini seperti menyuruh asisten rumah tangga paling rajin sekalipun, tapi Anda memberinya perintah dengan bahasa kaleng-kaleng dan daftar belanjaan yang tidak jelas.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Mesin Uang.
Ketika Robot Belajar Berdansa dalam Alur Kerja
Ambil contoh industri asuransi properti dan kecelakaan (P&C). Industri ini sangat bergantung pada data tidak terstruktur dan proses yang berulang tapi kompleks. Sempurna untuk diotomasisasi AI, bukan?
Namun, banyak perusahaan asuransi kesulitan mengintegrasikan AI sepenuhnya karena fondasi data mereka tidak siap. Proses klaim yang seharusnya cepat, justru melambat. Rata-rata 44 hari untuk memproses klaim pemilik rumah, dari pengajuan hingga pembayaran. Ini lebih lambat dari tukang pos yang masih mengantar surat manual!
Tapi, ada juga yang berhasil. Perusahaan asuransi yang berani menata ulang koneksi data dan menanamkan agen AI di seluruh arsitektur data mereka, melihat hasil yang luar biasa. Contohnya, satu perusahaan asuransi nasional berhasil memangkas waktu siklus klaim dari beberapa minggu menjadi hanya dua hari! Apa rahasianya? Bukan LLM (Large Language Model) yang lebih canggih, bukan juga investasi AI yang lebih besar.
Rahasianya adalah orkestrasi AI yang lebih baik. Mereka mampu menyelaraskan gambar kecelakaan, rekaman panggilan audio, catatan penilai, data klaim, konteks historis, nomor identifikasi kendaraan, pemeriksaan kualitas data, tinjauan cakupan, dan pemeriksaan penipuan ke dalam satu alur kerja yang digerakkan AI. Agen-agen AI bekerja bersama, seperti tim orkestra yang harmonis, bukan silo-silo vertikal yang saling cuek.
Ingin tahu lebih banyak tentang mengapa proyek AI seringkali gagal dan bagaimana menghindarinya? Simak artikel kami yang lain: “AI di Perusahaan Anda Cuma Jadi Pajangan Mahal? Saatnya Ubah Mentalitas, Bukan Cuma Infrastruktur!” dan “Proyek AI di Bisnis Global: Gagal Total Gara-gara Bos dan IT Kurang Ngopi Bareng?”.
Jika Anda ingin memastikan bisnis Anda tidak hanya sekadar ikut-ikutan tren AI, tapi benar-benar bisa menguasai dan mengendalikan potensi maksimalnya, Anda perlu menjadi majikan yang terampil, bukan hanya penonton setia. Pelajari caranya di AI Master: Kendalikan AI, Jadilah Majikan Sejati!
AI Itu Alat, Akal Manusia Itu Naskahnya
Setelah tiga tahun sejak ChatGPT muncul dan ‘membangunkan’ dunia akan potensi AI generatif dan agentic, banyak yang mulai mencari celah: bukti bahwa AI tidak sehebat yang digembar-gemborkan. Tapi, untuk bisnis yang memahami aplikasi praktis AI dan mau meluangkan waktu untuk menata ulang fungsi inti, hasilnya luar biasa.
Masalahnya bukan pada teknologi AI itu sendiri, tapi pada kemampuan kita mengintegrasikannya secara efektif. AI bukanlah produk “beli, colok, dan tunggu hasil”. Ia butuh “enabler” yang paham cara bekerja dengan data, serta memiliki pengetahuan mendalam tentang alur kerja spesifik industri yang paling siap untuk ditransformasi.
AI itu seperti asisten pribadi yang sangat cerdas, tapi Anda harus memberinya naskah yang jelas dan arahan yang spesifik. Tanpa naskah yang tepat, dia akan mengarang bebas, mungkin bikin lelucon yang kurang lucu, atau malah menghalusinasi jadwal rapat dengan Elon Musk. Pada akhirnya, sehebat-hebatnya AI, dia tetaplah tumpukan kode mati tanpa akal majikan yang menekan tombol.
Dan ngomong-ngomong tombol, remote TV saya yang satu lagi kok hilang, ya? Padahal baru kemarin saya lihat di bawah bantal. Pasti ulah kucing.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechRadar”
Gambar oleh: Shutterstock via TechRadar