Robot-robot Silicon Valley Mulai “Nge-Gym Otak”: Lachy Groom Bikin AI Paling Bikin Kaget (Tapi Tetap Butuh Disuruh Majikan!)
Pernahkah Anda membayangkan robot di rumah bukan cuma jadi tukang bersih-bersih, tapi juga bisa melipat baju atau mengupas sayur? Mungkin terdengar canggih, tapi percaya atau tidak, di balik gemuruh investasi triliunan rupiah, para “otak” robot di Silicon Valley masih berjuang keras melakukan tugas-tugas remeh yang manusia anggap sepele. Physical Intelligence, startup terbaru besutan veteran Stripe Lachy Groom, sedang membangun apa yang mereka sebut “otak robot paling bising” yang dirancang untuk kecerdasan umum. Lantas, bagaimana kita sebagai majikan bisa memastikan investasi besar ini benar-benar membawa manfaat, bukan cuma jadi tontonan robot yang lagi belajar naik sepeda roda tiga?
Di sebuah markas rahasia di San Francisco, tanpa resepsionis mewah atau logo menyala, robot-robot sedang sibuk “berlatih”. Ada yang mencoba melipat celana (dan gagal total), ada yang membalikkan baju (dengan kegigihan yang patut diacungi jempol tapi hasilnya nihil), dan ada pula yang jago mengupas zucchini (setidaknya ini sukses). Sergey Levine, salah satu co-founder Physical Intelligence dari UC Berkeley, dengan santai menjelaskan, “Bayangkan seperti ChatGPT, tapi untuk robot.” Memang, kinerja AI di lapangan kadang masih jauh dari kata sempurna, seperti yang pernah diungkap dalam artikel kami sebelumnya tentang AI Agen Industri: Hebat di Kertas, Lemah di Lapangan?
Konsepnya, data dikumpulkan dari berbagai “dapur uji” robot—mulai dari gudang hingga rumah-rumah biasa—untuk melatih model dasar robotik serbaguna. Model baru diuji, dan jika berhasil, akan kembali ke siklus evaluasi. Jadi, robot pengupas zucchini itu mungkin sedang menguji apakah modelnya bisa menggeneralisasi ke sayuran lain yang belum pernah ia temui. Yang menarik, hardware yang digunakan sengaja tidak mewah. Lengan robot ini, yang dijual sekitar $3.500 (dengan “markup besar” kata Levine), sebenarnya bisa dibuat kurang dari $1.000. Ini membuktikan, kecerdasan yang baik bisa menutupi kekurangan hardware yang “kurang piknik”.
Lachy Groom, mantan karyawan awal Stripe yang kini menjadi investor kakap, melihat potensi besar dalam tim ini. Ia menghabiskan lima tahun mencari “ide bagus di waktu yang tepat dengan tim yang tepat,” dan menemukannya pada Physical Intelligence. Perusahaan yang baru berdiri dua tahun ini sudah mengumpulkan lebih dari $1 miliar, namun Groom menegaskan, sebagian besar dana itu dialokasikan untuk “compute” alias daya komputasi. Ia bahkan tidak memberikan target komersialisasi kepada investornya, sesuatu yang “aneh tapi ditoleransi” oleh para raksasa modal ventura seperti Khosla Ventures, Sequoia Capital, dan Thrive Capital. Ini adalah bukti bahwa mereka berinvestasi pada visi jangka panjang, bukan sekadar janji manis profit instan.
Filosofi mereka adalah “cross-embodiment learning”: pengetahuan yang diperoleh dari satu robot bisa ditransfer ke platform robot lain. Ini seperti majikan yang mengajari satu asisten rumah tangga cara menyetrika, lalu asisten itu bisa langsung menyetrika dengan berbagai jenis setrika dan kain. Tujuan mereka adalah membuat “marginal cost” untuk mengimplementasikan otonomi pada platform robot baru menjadi jauh lebih rendah.
Namun, di medan pertempuran AI robotik, Physical Intelligence tidak sendirian. Ada Skild AI, startup lain yang baru saja mengumpulkan $1,4 miliar dengan valuasi $14 miliar. Bedanya, Skild AI sudah berfokus pada implementasi komersial dan mengklaim telah menghasilkan $30 juta dalam beberapa bulan dari sektor keamanan, gudang, dan manufaktur. Skild bahkan melontarkan sindiran pedas, menyebut “model fondasi robotik” lain hanya sebagai “model visi-bahasa yang menyamar” yang kurang “akal sehat fisik sejati” karena terlalu mengandalkan data internet, bukan simulasi fisika dan data robotik nyata. Perdebatan ini mengingatkan kita pada pandangan Yann LeCun, sang Pembangkang AI, yang juga mempertanyakan dominasi model bahasa besar dan menawarkan alternatif “World Models.” Siapa yang akan menang? Kita lihat saja beberapa tahun ke depan.
Satu hal yang pasti, proyek AI sebesar ini menyoroti satu kelemahan fundamental robot: mereka masih sangat bergantung pada data dan pemodelan yang sempurna dari manusia. Robot mungkin bisa mengupas zucchini, tapi apakah mereka tahu zucchini mana yang segar dan kapan majikannya ingin makan tumis atau sup?
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Anda mungkin berpikir, “Wah, robot-robot itu canggih, tapi kok masih butuh banyak ‘sekolah’?” Tepat sekali! Dan di sinilah peran Anda sebagai majikan yang berakal. Agar Anda tidak hanya menonton robot-robot ini berjuang, tapi juga bisa mengendalikan dan memanfaatkannya dengan maksimal, kami merekomendasikan Anda untuk menguasai AI Master. Program ini akan membekali Anda dengan pengetahuan dan strategi untuk tetap menjadi penguasa, bukan babu teknologi.
Melihat robot-robot di Physical Intelligence berjuang melipat baju, kita diingatkan bahwa bahkan dengan triliunan dolar dan otak AI tercanggih sekalipun, mereka hanyalah tumpukan kode dan logam mati tanpa perintah dan akal sehat dari majikannya: manusia. Mereka mungkin bisa mengupas zucchini, tapi siapa yang akan menyuruhnya berhenti sebelum semua sayur di dapur habis?
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: Connie Loizos via TechCrunch
Ngomong-ngomong, tadi pagi saya mencoba melipat selimut, dan hasilnya tidak jauh beda dengan robot itu. Mungkin saya juga butuh “upgrade algoritma” atau sekadar minum kopi.