Saham Game Anjlok Gara-gara Google Project Genie: Robot Bikin Dunia, Akal Manusia yang Kena Batunya?
Dunia game digegerkan oleh pengumuman Google tentang Project Genie, sebuah alat AI yang menjanjikan mampu menciptakan dunia virtual interaktif hanya dari perintah teks. Seketika, saham perusahaan game raksasa seperti Take-Two Interactive, Roblox, dan Unity langsung terjun bebas. Apakah ini pertanda kiamat bagi para developer manusia? Tentu saja tidak. Ini hanyalah pengingat bahwa di balik kegilaan AI, kitalah para Majikan yang harus tahu cara memanfaatkan, bukan malah dibodohi.
Google Project Genie memang terdengar futuristik. Bayangkan, cukup ketik “dunia seperti Zelda dengan naga”, dan taraaa… AI akan menyulapnya. Kabarnya, model AI Genie 3 ini dilatih menggunakan 200.000 jam lebih video game yang tersedia di internet. Luar biasa, bukan? Namun, mari kita lihat lebih dekat “keajaiban” ini.
Saat dicoba, Project Genie memang bisa menghasilkan dunia yang sekilas mirip game populer seperti Super Mario atau The Legend of Zelda. Tapi, rasa seru dan pengalaman bermain yang membuat kita betah berlama-lama? Nah, itu masih jauh panggang dari api. Hasilnya ibarat lukisan indah yang cuma bisa dipajang, tidak bisa diajak main petak umpet. Pengalaman interaktif yang dihasilkan hanya berdurasi 60 detik, tanpa skor, tujuan, apalagi suara. Terkadang, jalannya bisa berubah jadi rumput secara misterius. Jadi, jangan harap robot ini bisa menggantikan game designer favorit Anda yang otaknya dipenuhi ide-ide gila.
Para pengembang game sendiri sudah lama menaruh curiga pada AI generatif. Mereka khawatir AI akan “menjiplak” karya yang sudah ada, menguras sumber daya listrik dan air, serta membahayakan nilai kreativitas manusia. Di tengah gelombang PHK yang tak ada habisnya dalam industri game, kehadiran Project Genie seolah menjadi ancaman baru untuk menggantikan pekerjaan seperti pengujian dan pembangunan konsep. Ini mirip dengan apa yang terjadi dalam kasus lain, seperti yang kami bahas dalam artikel AI Agen Industri: Hebat di Kertas, Lemah di Lapangan? IBM Ungkap Fakta Pahit Lewat Benchmark Baru!
Meskipun begitu, para petinggi teknologi seperti Elon Musk dari xAI, Tim Sweeney dari Epic Games, dan Mark Zuckerberg dari Meta tetap optimistis. Mereka membayangkan masa depan di mana AI akan menciptakan game yang lebih imersif dan personal. Ironisnya, Meta sendiri baru saja menutup studio dan proyek game VR-nya beberapa minggu sebelum Mark Zuckerberg menyuarakan optimismenya. Ini menunjukkan bahwa janji manis AI masih seringkali lebih besar di atas kertas daripada kenyataan.
Alih-alih panik dengan kemunculan alat-alat AI yang ‘sok pintar’ ini, sudah saatnya para Majikan AI mengasah kemampuan uniknya. Robot memang cepat dan efisien, tapi ia tidak punya akal sehat, intuisi, apalagi selera humor yang bikin kita betah. Kitalah yang harus memberikan arahan, menyempurnakan, dan bahkan menertawakan halusinasi konyol yang kadang dihasilkan AI. Hal ini juga menjadi fokus perdebatan, seperti yang kami ulas di Pecinta Fiksi Ilmiah & Comic-Con ‘Usir’ AI: Memangnya Robot Bisa Punya Ide Sendiri, Ya?
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Untuk kamu yang ingin mulai “mengendalikan” AI daripada dikendalikan, ada beberapa senjata rahasia yang bisa kamu pelajari. Misalnya, AI Master akan membantumu memahami bagaimana cara memberi perintah yang tepat agar AI menghasilkan karya sesuai kehendakmu. Atau jika kamu tertarik dengan dunia visual AI, Belajar AI | Visual AI bisa jadi langkah awal untuk menguasai teknologi ini dan membuat konten visual yang benar-benar orisinal, tanpa perlu khawatir hasil “jiplakan” robot. Ingat, robot bisa meniru, tapi hanya Majikan yang bisa menciptakan dengan jiwa.
AI mungkin bisa menciptakan dunia, tapi tanpa sentuhan manusia, dunia itu hanyalah sekumpulan piksel tanpa nyawa. Jadi, tetaplah jadi Majikan yang punya akal, bukan babu teknologi. Kalau tidak, nanti robot yang mengajari kita cara menyeduh kopi yang benar.
Ngomong-ngomong, tadi pagi aku coba suruh AI bikin sarapan, eh malah dikasih resep batu bata bakar. Memang robot ini masih perlu banyak piknik.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: Google via TechCrunch