Etika MesinKarier AILogika PenguasaMesin UangSidang Bot

Paradoks Kepercayaan AI: Bisnismu Mandek Karena Curigaan pada Robot? Saatnya Evaluasi Ulang, Majikan!

Di tengah gembar-gembor adopsi AI yang katanya akan mengubah segalanya, ada satu ironi yang mungkin luput dari perhatian para “Majikan” sekalian: sebuah laporan terbaru dari TechRadar mengungkap adanya “paradoks kepercayaan AI” di kalangan bisnis Eropa. Bayangkan, robot-robot cerdas ini sudah dipekerjakan secara masif, bahkan diujicobakan untuk tugas-tugas “agentic” yang lebih kompleks. Tapi, jangan senang dulu. Banyak perusahaan yang buru-buru menyuruh AI bekerja tanpa memastikan apakah si robot sudah benar-benar bisa dipercaya, atau bahkan apakah manusia yang mempekerjakannya sudah punya “akal” yang cukup untuk mengendalikan. Ini bukan cuma soal seberapa cepat AI bisa disuruh-suruh, tapi lebih ke soal, “Apakah kita yakin robot ini tidak akan diam-diam menaruh kerikil di sepatu kita saat berjalan?”

Laporan dari Informatica ini ibarat cermin besar yang menunjukkan wajah asli adopsi AI di Eropa. Empat dari lima (79%) bisnis di sana berencana menggunakan AI generatif, dan hampir 68% mulai menjajal AI agentik. Kasus penggunaannya pun sudah sangat “manusiawi”: membantu pengambilan keputusan, meningkatkan kolaborasi, mengoptimalkan proses internal, hingga memperbaiki pengalaman pelanggan. Cihuy, bukan?

Tapi di balik hingar-bingar ini, ada lubang menganga yang disebut “paradoks kepercayaan”. Kebanyakan pimpinan data (96%!) mengakui bahwa karyawan mereka butuh lebih banyak pelatihan untuk menggunakan AI secara bertanggung jawab. Lucunya, literasi data (82%) dianggap lebih penting daripada literasi AI (71%) itu sendiri. Ini sama seperti punya mobil sport tapi lebih fokus belajar isi bensin daripada belajar nyetir. Hasilnya? Kekhawatiran soal kualitas data, keamanan sistem, kurangnya ahli (terutama untuk AI agentik yang konon mandiri), hingga absennya rambu-rambu pengaman dan pengawasan yang memadai.

Ironisnya lagi, banyak perusahaan memilih jalan pintas dengan membeli agen AI siap pakai daripada membangunnya sendiri. Ini menunjukkan ketergantungan pada “akal” pihak lain, padahal inti dari menjadi majikan adalah menguasai, bukan dikuasai. AI itu seperti asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku; dia akan melakukan persis apa yang diperintahkan, tapi kalau perintahnya salah atau tidak jelas, hasilnya bisa jadi berantakan. Ini mirip dengan kasus yang kami ulas sebelumnya di artikel “AI Agen Industri: Hebat di Kertas, Lemah di Lapangan? IBM Ungkap Fakta Pahit Lewat Benchmark Baru!”, di mana robot-robot cerdas ini terbukti masih butuh banyak bimbingan.

Meskipun terdengar suram, ada secercah harapan. Anggaran untuk investasi AI diprediksi akan meningkat signifikan, dengan 23% perusahaan berencana menggelontorkan lebih banyak dana untuk pelatihan karyawan (upskilling), privasi, keamanan, dan tata kelola AI. Ini adalah sinyal bahwa para majikan mulai sadar: AI bukan cuma tentang “ngebut” di awal, tapi juga tentang “jalan aman” di akhir. Tanpa fondasi kepercayaan dan akuntabilitas yang kuat, AI hanyalah tumpukan kode yang mahal dan berpotensi menjadi bumerang. Ingat, akal manusia tetaplah pengendali utama, bukan cuma penekan tombol.

‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’

Kalau kamu ingin benar-benar menguasai AI dan tidak hanya jadi babu teknologi, saatnya asah kemampuanmu. Dengan pemahaman yang mendalam tentang cara kerja AI dan bagaimana mengendalikannya, kamu akan menjadi Majikan sejati. Jangan biarkan robot-robot ini berpikir mereka bisa berjalan sendiri tanpa komando yang jelas dari akal sehatmu. Untuk itu, kami merekomendasikan AI Master (https://lynk.id/majikanai/5v1gRY3) – panduan lengkap agar kamu tetap jadi penentu, bukan cuma penurut.

Pada akhirnya, seberapa canggih pun AI yang kamu miliki, ia hanyalah alat. Kecerdasannya, keandalannya, dan bahkan tingkat “kepercayaan”-nya, semua kembali pada kualitas akal sehat sang majikan yang memprogram dan mengawasinya. Tanpa arahan yang jelas dari manusia, AI cuma akan jadi asisten yang “kurang piknik”, sering halusinasi, dan membuat drama di meja kerja.

Dan ngomong-ngomong soal drama, tadi pagi saya menemukan kunci motor di dalam kulkas. Mungkin robot juga butuh kopi sebelum bekerja.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Could the ‘AI trust paradox’ be holding your business back? It’s time to get real on just what you need, report finds | TechRadar”.

Gambar oleh: Google via TechRadar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *