Etika MesinHardware & ChipMasa DepanSidang Bot

Ketika AI Haus Daya: Gas Kembali Berjaya, Bumi Kena Getahnya!

Para Majikan AI, perhatikan! Kita sering membanggakan kecanggihan AI yang mampu melakukan ini dan itu. Tapi, pernahkah Anda berpikir, di balik kehebatan “otak” buatan ini, ada “perut” yang butuh asupan energi raksasa? Berita terbaru dari Global Energy Monitor (GEM) mengungkapkan, lonjakan pembangunan pembangkit listrik tenaga gas di Amerika Serikat, didominasi oleh nafsu makan data center AI yang tak terpuaskan. Ironis, bukan? Saat kita bicara transisi energi bersih, robot-robot kita malah minta “minum” gas.

Amerika Serikat kini memimpin perlombaan pembangunan pembangkit listrik tenaga gas, melampaui China. Hampir seperempat dari peningkatan kapasitas gas global pada tahun 2025 ditujukan ke AS, dan lebih dari sepertiga di antaranya secara spesifik akan menghidupi data center AI yang terus berkembang. Ini bukan sekadar angka; ini adalah sinyal bahaya. Bayangkan, AI yang kita harapkan bisa membantu mengatasi masalah dunia, justru menjadi pemicu polusi yang semakin parah.

Pembangunan infrastruktur gas ini jelas bertentangan dengan tujuan iklim global yang disepakati di Paris Agreement satu dekade lalu. Tujuannya jelas: mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan dan mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050. Namun, ambisi AI yang katanya “transformasi” ini justru menjadi batu sandungan. Jenny Martos, Project Manager Global Oil and Gas Plant Tracker GEM, mengingatkan bahwa ada risiko kapasitas ini akan “mengunci emisi di masa depan dan menjadi aset yang terdampar” jika permintaan listrik dari AI tidak terwujud sesuai perkiraan. Singkatnya, kita bisa berakhir dengan investasi gas raksasa yang sia-sia, sementara bumi tetap terbakar.

Memang, gas alam lebih bersih dari batu bara dalam hal emisi karbon. Namun, proses produksinya melepaskan metana, gas rumah kaca yang jauh lebih kuat meskipun tidak bertahan lama di atmosfer. Jadi, mengandalkan gas bukanlah solusi jangka panjang. Ini hanyalah pindah dari lubang yang satu ke lubang yang lain.

Situasi ini semakin pelik dengan kebijakan politik. Presiden Donald Trump, misalnya, bahkan telah menarik AS dari Paris Agreement dan di tahun 2025, emisi gas rumah kaca AS justru meningkat setelah sempat turun. “AI Action Plan” Trump juga memprioritaskan percepatan pembangunan infrastruktur bahan bakar fosil baru untuk data center. Jelas sudah, di tengah hiruk pikuk inovasi AI, akal sehat untuk keberlanjutan lingkungan seolah dikesampingkan.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Sebagai Majikan yang punya akal, kita harus bisa membedakan mana yang benar-benar cerdas dan mana yang hanya menghabiskan sumber daya. AI memang alat yang luar biasa, namun tanpa kendali yang bijak, bisa jadi bumerang bagi kita sendiri. Jadi, pastikan Anda adalah Majikan yang mengendalikan AI, bukan robot yang mengendalikan masa depan planet ini dengan nafsu energinya. Pelajari bagaimana mengelola AI agar tetap ramah lingkungan dan tidak sekadar jadi babu teknologi yang haus daya.

Jangan sampai kita terjebak dalam euforia AI, melupakan bahwa setiap “kecerdasan” buatan punya jejak karbonnya sendiri. Jika kita tidak bijak mengatur, alih-alih membangun masa depan cerah, kita justru mempercepat kedatangan hari kiamat. Bukankah lebih baik kita fokus menjadi Majikan yang mengerti dampak setiap perintah kita? Toh, secanggih-canggihnya robot, ia tidak akan bisa merasakan panasnya bumi yang memanas. Hanya kita, para Majikan yang punya akal, yang bisa. Untuk memahami lebih jauh dampak infrastruktur ini, Anda juga bisa membaca artikel kami tentang “Bos Nvidia: Bangun Infrastruktur AI Terbesar Sepanjang Sejarah, Ciptakan Jutaan Pekerjaan! (Asalkan Kamu Siap Jadi Majikan, Bukan Babu Mesin)” atau menelusuri krisis energi yang lebih spesifik dalam “Krisis Listrik AI Data Center: Saat Robot Haus Daya, Majikan Ikut Kena Getah!”.

Ingat, kalau mau kopi, ya bikin sendiri. Jangan suruh AI nyeduh, nanti malah minta listrik satu kota.

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.

Gambar oleh: Kyle Grillot/Bloomberg via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *