Microsoft Genjot Miliaran Dolar untuk AI: Satya Nadella Bilang Laku Keras, Tapi Data Bicara Lain (Atau Memang Robotnya Malu-Malu Kucing?)
Para Majikan AI sekalian, mari kita tepuk jidat sejenak. Microsoft baru saja merilis laporan keuangan yang membukukan pendapatan fantastis, lebih dari 81 miliar dolar! Sebuah angka yang membuat dompet kita meronta iri. Tapi, di balik gemerlap cuan itu, ada bisik-bisik yang bikin kening berkerut: kenapa saham Microsoft malah anjlok? Investor rupanya gelisah, mengkhawatirkan uang triliunan yang digelontorkan untuk infrastruktur AI, sementara penggunaan AI-nya sendiri masih jadi misteri. Ini bukan cuma soal investasi besar, tapi bagaimana kita, sebagai majikan sejati, memastikan robot-robot pintar ini benar-benar bekerja, bukan cuma jadi pajangan mahal di server.
Laporan terbaru TechCrunch menyebutkan bahwa Microsoft telah menghabiskan hampir dua kali lipat belanja modal (capital expenditures) di paruh pertama tahun fiskal ini dibandingkan tahun sebelumnya. Bayangkan, 88,2 miliar dolar tahun lalu, dan 72,4 miliar dolar sudah terkuras di tahun ini! Mayoritas dana jumbo ini, menurut CEO Satya Nadella, dialokasikan untuk melayani kebutuhan AI perusahaan besar dan laboratorium AI raksasa seperti OpenAI dan Anthropic. Wajar jika investor bertanya-tanya, "Apakah semua pengeluaran ini akan terbayar dengan peningkatan penggunaan dan, yang terpenting, keuntungan?"
Keraguan ini bukan tanpa dasar. Produk cloud utama Microsoft, Azure, dan aplikasi Microsoft 365, menunjukkan pertumbuhan yang "sedikit di bawah ekspektasi." Karl Keirstead, seorang analis dari UBS, bahkan mencatat bahwa "fakta bahwa kedua segmen Azure dan M365 sedikit meleset adalah negatif utama yang kami dengar," meskipun ia tetap merekomendasikan pembelian saham karena optimisme jangka panjang.
Beberapa bulan lalu, beredar rumor bahwa banyak orang sebenarnya enggan menggunakan AI Microsoft, meskipun Copilot sudah terintegrasi di berbagai produk mereka. Nadella, dalam panggilan pendapatan, terpaksa melakukan apa yang kami sebut "PR penggunaan AI." Ia mengklaim pengguna harian produk Copilot konsumer tumbuh "hampir 3x dari tahun ke tahun." Angka yang impresif, bukan? Tapi tunggu dulu, berapa tepatnya jumlah pengguna "harian" itu? Bapak Nadella enggan menyebutkan. Agaknya, robot-robot konsumer ini masih malu-malu kucing untuk dihitung jumlah pastinya.
Namun, ada kabar baik dari segmen profesional. GitHub Copilot, asisten AI untuk pengembang kode, kini memiliki 4,7 juta pelanggan berbayar, naik 75% dari tahun ke tahun. Ini adalah angka yang solid, menunjukkan bahwa ketika AI diberikan tugas yang jelas dan spesifik, para majikan manusia tahu cara memanfaatkannya. Demikian pula, Microsoft 365 Copilot telah mencapai 15 juta kursi berbayar dari perusahaan, meskipun ini hanya sebagian kecil dari total 450 juta kursi berbayar Microsoft 365. Di sektor kesehatan, Dragon Copilot, agen AI untuk profesional medis, tersedia untuk 100.000 penyedia medis dan digunakan untuk 21 juta interaksi pasien kuartal ini—naik tiga kali lipat dari tahun ke tahun. Ini membuktikan bahwa di bidang yang sangat spesifik dan membutuhkan efisiensi tinggi, AI bisa menjadi asisten yang sangat rajin.
Nadella dan CFO Amy Hood optimis bahwa semua miliaran dolar yang diinvestasikan dalam pusat data tidak akan sia-sia. Mereka bersikeras bahwa permintaan untuk layanan AI jauh melampaui pasokan pusat data. Artinya, setiap chip dan server baru yang dipasang, langsung habis dipesan. Ini seperti pabrik bakso yang baru buka tapi sudah kebanjiran order sampai kewalahan.
Pesan pentingnya bagi kita para majikan adalah: AI adalah alat yang luar biasa, namun tanpa arahan yang tepat dari manusia, ia bisa jadi investasi mahal yang kurang piknik. Jangan sampai kita cuma punya robot canggih tapi tidak tahu cara memerintahnya.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Untuk memaksimalkan potensi AI seperti Copilot, Anda perlu memahami bagaimana cara memberi perintah yang presisi dan mengelola ekspektasi Anda. Ini bukan sekadar mengetik prompt, melainkan seni mengendalikan kecerdasan buatan agar sesuai dengan tujuan Anda. Jika Anda ingin menjadi majikan yang sesungguhnya di dunia AI, bukan hanya babu teknologi yang terbawa arus hype, ada baiknya Anda mulai menguasai seluk-beluknya. Kursus AI Master dapat membantu Anda mengendalikan AI agar Anda tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi.
Pada akhirnya, secanggih apa pun AI Copilot atau seberapa banyak miliaran dolar yang diinvestasikan Microsoft, yang memegang kendali adalah jari manusia yang menekan tombol. Robot itu cerdas, tapi masih butuh akal sehat majikannya.
Ngomong-ngomong, pernahkah Anda berpikir kenapa remote TV selalu hilang di sofa saat paling dibutuhkan? Mungkin ada Copilot yang sedang menyembunyikannya.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.
Gambar oleh: Mark Kauzlarich/Bloomberg via TechCrunch